Dari sponsor menuju branding total
Formula 1 hidup dari perubahan. Regulasi mesin baru, perombakan aerodinamika, juara-juara baru. Namun, apa yang terjadi di paddock hari ini melampaui batas tradisional olahraga ini. Mulai 2027, tim asal Enstone yang dikenal sebagai Alpine akan meninggalkan livery pink-biru mereka saat ini untuk selamanya. Sebagai gantinya hadir "Gucci Racing Alpine Formula One Team."

Rumah mode Italia itu tidak sekadar menempelkan logo di sidepod. Francesca Bellettini, presiden sekaligus CEO Gucci, menyatakan isi kesepakatan itu dengan lugas: "Kami menjadi rumah mode mewah pertama yang mengambil peran sebagai sponsor utama tim di Formula 1."
Bersponsor
Pertama. Dalam bahasa pemasaran olahraga, kata itu punya bobot yang sangat besar.
Arah visual mobil sudah mulai terlihat: dasar hitam, garis merah-hijau ikonik milik rumah mode tersebut, dan inisial berwarna emas. Bellettini memastikan proses kreatifnya akan dipimpin direktur artistik Gucci, Demna. Sinyalnya jelas: alih-alih sekadar logo di livery balap, penonton bisa mengharapkan konsep desain yang utuh di lintasan.

Lebih dari logo: kesepakatan senilai 150 juta dolar AS
Model sponsor klasik itu sederhana: uang, logo, visibilitas. Gucci Racing mendobrak aturan tersebut.
Siaran pers bersama menggambarkan proyek ini sebagai platform bisnis baru tempat kemewahan bertemu dengan presisi dan disiplin olahraga. Angka resmi kontrak tidak diungkap, tetapi orang dalam industri menaksir nilai kesepakatan itu antara 50 juta dan 60 juta dolar AS per musim. Dengan memperhitungkan bonus performa, kesepakatan multitahun tersebut diperkirakan melampaui 150 juta dolar AS secara total. Era BWT yang berlangsung lima musim pun berakhir.
"Gucci Racing bukan sekadar hadir di grid. Ini adalah pernyataan tentang ambisi merek kami dan visi kami untuk masa depan," kata Bellettini. Hubungan rumah mode Italia itu dengan dunia otomotif sudah terjalin sejak 1970-an, tetapi Formula 1 menghadirkan skala dan tekanan yang sama sekali berbeda.

Dari dasar klasemen ke posisi kelima: konteks olahraga di balik kesepakatan
Gucci tidak mengambil risiko dengan sembarangan. Kedalaman kemitraan ini tidak bisa dipahami tanpa melihat kebangkitan Alpine belakangan ini.
Setelah musim 2025 yang suram, yakni posisi juru kunci klasemen konstruktor dengan hanya 22 poin, ditambah gejolak struktural yang melingkupinya, Alpine memulai 2026 dengan tekad kuat. Setelah empat balapan, tim ini duduk di posisi kelima klasemen konstruktor. Finis keenam Pierre Gasly di China menegaskan bahwa ini bukan kebangkitan semu: ini adalah awal musim terbaik sepanjang sejarah tim.
"Di tengah hasil yang membaik di lintasan dan awal musim terbaik kami, kolaborasi dengan Gucci mencerminkan momentum tim yang terus tumbuh," ujar Flavio Briatore. Seperti biasa, tim yang kompetitif membuka pintu-pintu paling bergengsi.

Ciri khas Briatore: dari Benetton ke Gucci
Satu sosok berada di pusat cerita ini.
Penasihat eksekutif Alpine, Flavio Briatore, pertama kali menorehkan namanya di Formula 1 sebagai pria yang menjalankan Benetton. Tim itu merupakan perpaduan asli antara mode dan balap di grid, dan dengan warna-warna itulah Michael Schumacher meraih gelar juara dunia beruntun pada 1994 dan 1995.
Tiga dekade kemudian, Briatore kembali memakai resep yang sama, kali ini dengan skala dan jangkauan Gucci di belakangnya.
"Tim Enstone punya sejarah mendobrak konvensi. Kami pernah membuktikan bahwa mode bisa menjadi yang pertama melewati garis finis di Formula 1," kata pria Italia itu.
Pada 2027, sebuah mobil baru akan meluncur ke grid: berwarna hitam, berinisial emas, dan bergaris merah-hijau. Bagi mereka yang mengenal karier Briatore, strateginya terasa familier. Hanya era dan mereknya yang berubah.




