Perebutan gelar Liga Primer Inggris belum pernah setegang ini. Kurang dari sebulan lagi musim berakhir — masing-masing tinggal lima pertandingan, satu klasemen, satu trofi. Dan sekarang, di fase akhir, semuanya bergantung pada satu bola atau satu kesalahan.
Pada Maret, jarak di antara mereka sembilan poin. Kini — tiga.
Klasemen yang bicara segalanya
BersponsorManchester City dan Arsenal hanya dipisahkan selisih setipis mungkin. Setelah hasil-hasil pada Rabu, kedua tim sama-sama mengoleksi 70 poin dengan selisih gol yang sama (+37), dan City unggul hanya karena mencetak 66 gol berbanding 63 milik Arsenal. Lalu pada Sabtu, 25 April, tendangan melengkung Eberechi Eze di babak pertama memberi Arsenal kemenangan kandang 1-0 atas Newcastle dan membawa mereka kembali ke puncak — unggul tiga poin, dengan City masih memiliki satu laga tunda.
Kemenangan itu mengakhiri periode buruk Arsenal — kalah dari Bournemouth (2-1) dan dari City (2-1) di Etihad pada 19 April, ditambah kekalahan di final Carabao Cup dari City dan tersingkir di perempat final Piala FA oleh Southampton. Tim asuhan Mikel Arteta hanya memenangi satu dari enam laga sebelumnya di semua kompetisi, yakni kemenangan 1-0 pada leg pertama perempat final Liga Champions di markas Sporting CP.
Arsenal masih punya lima laga. City juga lima, dengan satu laga tunda. Dan pertandingan-pertandingan itu akan menulis sejarah 22 tahun.

Arsenal kehabisan tenaga
Apa yang terjadi pada tim Mikel Arteta?
Salah satu jawabannya — krisis skuad di saat paling buruk.
Bukayo Saka, jantung serangan Arsenal, mengelola masalah tendon Achilles sejak mundur dari timnas Inggris pada jeda internasional Maret. Ia absen di final Carabao Cup yang berakhir kekalahan dari City dan sudah menepi sekitar sebulan — Arteta sebelum laga liga melawan City mengatakan, "Bukayo absen, pasti," sebelum menegaskan menjelang laga Newcastle: "Bukayo kemungkinan akan masuk skuad, jadi kabar baik."
Kapten Martin Ødegaard kembali dari cedera lutut ringan dan menjadi starter melawan Newcastle. Mikel Merino masih pulih dari operasi kaki awal tahun ini — ia dilaporkan membidik kembali sebelum akhir musim, dengan Piala Dunia juga dalam incarannya. Jurriën Timber absen di laga Newcastle karena masalah pangkal paha, sementara Riccardo Calafiori kembali masuk daftar pemain untuk pertandingan. Kai Havertz pincang dan ditarik keluar pada menit ke-34 melawan Newcastle, dan Eze sendiri harus ditarik pada babak kedua.
Lima pemain kunci silih berganti keluar masuk daftar susunan pemain — dan semuanya terjadi di fase paling menentukan perebutan gelar.

Murid melawan guru
Ada cerita lain yang berlangsung di sisi psikologis — Arteta berhadapan dengan mantan bosnya.
Mikel Arteta menjadi asisten Guardiola di Etihad dari musim panas 2016 hingga Desember 2019. Lalu ia pergi ke Arsenal dan membangun kerajaannya sendiri di London utara. Namun dalam tiga musim terakhir, tim Arteta selalu finis kedua — dua kali di bawah City sendiri (2022-23 dan 2023-24), sekali di bawah Liverpool (2024-25).
Bagi Guardiola, City berjuang meraih gelar ke-7 dalam 9 tahun. Bagi Arteta, ini misi bersejarah — gelar liga pertama dalam karier kepelatihannya. Beban psikologisnya sangat berbeda sehingga ikut membentuk jalannya sisa musim.
Usai kemenangan atas Burnley, Guardiola berkata: "Mengingat tiga hari terakhir dan emosi serta fisik dalam laga yang kami mainkan [melawan Arsenal], kami menampilkan pertandingan yang luar biasa."

209 hari dan 22 tahun
Kisah Arsenal dalam perebutan gelar layak mendapat bab tersendiri.
Mereka naik ke puncak klasemen pada Agustus lalu. Dan di sana mereka bertahan — hari demi hari, pekan demi pekan, bulan demi bulan. Selama 209 hari berturut-turut, Emirates bertengger di puncak. Pada 14 Maret, setelah City bermain imbang 1-1 dengan West Ham, mereka sempat membangun keunggulan 9 poin. Suporter Arsenal sudah menyiapkan skenario perayaan.
Lalu City mengejar. Tiga kemenangan beruntun di liga bagi anak asuh Guardiola, dua kekalahan beruntun di liga bagi The Gunners, dan pada 22 April keunggulan itu hilang. City memuncaki klasemen untuk pertama kalinya sejak pekan pembuka musim — hingga Arsenal menjawab lewat kemenangan atas Newcastle tiga hari kemudian.
Gelar terakhir Arsenal? 2003-04 — era "Invincibles". Thierry Henry, Patrick Vieira, Robert Pires — nama-nama yang menjadi legenda. Sejak itu — 22 tahun penantian, tiga kali berturut-turut finis kedua, dan kini situasi ini.

Kenangan Aguero
Jika poin tetap ketat sampai akhir, gelar bisa ditentukan oleh selisih gol atau jumlah gol. Dan di sinilah setiap suporter Manchester City hafal ceritanya di luar kepala.
Musim 2011-12. Hari terakhir. City dan Manchester United finis dengan 89 poin yang sama. Selisih gol — City +64, United +56. City menjadi juara pada momen terkenal ketika Sergio Aguero mencetak gol ke gawang QPR pada menit 90+4 untuk melengkapi kemenangan comeback 3-2 dan menentukan segalanya. "Aguerooooo!" — komentar ikonik Martin Tyler.
Dalam seluruh sejarah Liga Primer Inggris, gelar hanya sekali ditentukan oleh selisih gol — pada musim 2011-12 itu. Itu momen sejarah yang unik. Dan kini, pada 2026, dengan kedua tim sama-sama di +37 dan masih tersisa lima laga, hal itu tampak siap terulang.
Penting juga diketahui bagaimana aturan Liga Primer Inggris menangani situasi yang benar-benar sama kuat. Urutannya: selisih gol, jumlah gol, lalu rekor head-to-head. City dan Arsenal bermain imbang 1-1 di Emirates pada September; City menang 2-1 pada laga balasan di Etihad pada 19 April. Jadi jika kedua tim finis dengan poin sama, selisih gol sama, dan jumlah gol sama, City akan juara lewat aturan head-to-head. Tidak akan ada laga play-off.

Dua front Arsenal
Di sinilah muncul fakta yang mungkin menjadi kunci merosotnya Arsenal.
Tim Arteta tidak hanya berjuang di Liga Primer Inggris. Arsenal berada di semifinal Liga Champions — menghadapi Atlético Madrid, dengan leg pertama di Madrid pada 29 April dan leg kedua di Emirates pada 5 Mei. Ini semifinal kedua klub secara beruntun, dan mungkin peluang paling realistis mereka mencapai final dalam dua dekade.
Namun ada harganya.
Liga Champions sangat menguras fisik dan mental skuad. Laga Eropa pada Rabu — laga liga pada Minggu. Dan ketika tim sudah kehilangan pemain kunci, jadwal seperti itu menjadi ujian yang berat.
Sebaliknya, City tersingkir dari Liga Champions musim ini di babak 16 besar — kalah agregat 5-1 dari Real Madrid pada Maret. Tersingkirnya mereka lebih awal itulah yang memberi keunggulan fisik pada pekan-pekan akhir Mei.
Bisa jadi mimpi gelar Arsenal akan sirna di Budapest — tempat final Liga Champions digelar pada 30 Mei. Saat mereka meraih satu trofi, trofi lainnya bisa terlepas dari tangan.
Satu tangan tak bisa memegang satu piala — apalagi dua.




